Mengirim jutaan tentara manusia ke medan tempur di zaman peperangan modern pada tahun 2026 ini. Tidak lagi sekadar strategi militer yang baik. Itu dapat dibilang sebagai keputusan ngawur yang semakin terasa usang, tragis dan menyedihkan. Selama ribuan tahun, logika tentang perang itu sederhana. Siapa punya lebih banyak tentara manusia, dia bakal kuat dan menang. Itu logika berpikir orang orang zaman dulu ya, Sekarang beda ? Logikanya berubah menjadi siapa yang punya lebih banyak robot yang kuat, otonom dan paling cerdas maka menjadi pemenang. Robot UGV yang dilengkapi algoritma kecerdasan buatan AI, sensor canggih, radar, pelontar granat, peluncur antitank dan persenjataan senapan mesin kaliber 7,62 dapat dan terbukti mengancam nyawa tentara infanteri manusia. Robot tidak takut, tidak ragu & tidak punya emosi. Bandingkan dengan tentara manusia. Ada rasa takut, lelah, cape dan trauma. Sedangkan robot tidak punya emosi sama sekali. Bukan berarti tentara manusia tidak lagi dianggap pe...