Skip to main content

Israel perlu reformasi kelistrikan murah dengan menurunkan harga tarif listrik hingga 50% menggunakan energi terbarukan dan mengurangi kapasitas penyimpanan surplus baterei listrik dari 20 hari menjadi 5 hari secara terdesentralisasi ( 2025 )

 


Setiap 1 keluarga di Israel mayoritas rata rata mengkomsumsi listrik sebesar 500 kWh per bulan yang setara dengan 700 watt perbulan untuk menyalakan lampu, kulkas, mesin cuci, AC, kipas angin, laptop, smartphone, pompa air, dll sebagainya. 

Israel adalah pulau listrik. Negara ini sesungguhnya surplus listrik, tidak kekurangan listrik. Bahkan Israel mengekspor listrik ke Palestina sejak lama. Beberapa proposal bahkan hendak berupaya menjual listrik ke negara tetangganya yaitu Mesir melalui jaringan tower tiang listrik yang melewati gurun Sinai dan Uni Eropa melalui kabel bawah laut. Tetapi versi ini dibatalkan karena berisiko kabel diputus oleh Turkiye.

Sedangkan kepada Yordania, Israel malah mengimpor listrik karena adanya perjanjiaan kerjasama bilateral pertukaran dagang 'Yordania beli air, Israel beli listrik'. Mengingat Yordania merupakan negara surplus listrik dari energi matahari terbarukan. 

Harapan kedepannya yaitu kerjasama dengan Mesir : 'Mesir beli listrik, Israel beli kapas untuk keperluaan orang orang Israel membuat tekstil dan pakaian'. Mengingat Mesir menjadi salah satu pengekspor tanaman kapas terbesar di dunia'. Sehingga menjadi hubungan bisnis win win solution di masa depan. 

Agar dapat menjadi negara yang lebih baik lagi, meningkatkan investasi & tabungan penduduk dan mengairahkan industri menuju go global. Pemerintah Israel melalui BUMN IEC ( Israel Electric Corporation ) selaku penguasa tunggal satu satunya jaringan grid kelistrikan. Perlu untuk menurunkan harga tarif listrik hingga 50%. 

Sehingga apabila masing masing keluarga di Israel per bulan membayar listrik. Anggap saja agar mudah dihitung ya. Ambil contoh : Sebesar Rp 1.000.000 per bulan. Jika tarif diturunkan oleh IEC sebesar 50%. Maka setiap keluarga di Israel cukup membayar uang Rp 500.000 ribu rupiah saja per bulan. 

Apa arti ini semua...? Dan mengapa belum terjadi. Salah satu penyebabnya yaitu karena adanya kebijakan yang mewajibkan pembangunan infrastruktur baterei yang mampu menampung listrik negara selama 20 hari, akibat ketakutan terhadap bencana serangan rudal musuh menghancurkan konstruksi baterei listrik. 

Akibatnya listrik yang surplus selama ini, malah tidak terdistribusi ke rakyat dan industri. Surplus listrik hanya mengendap saja di baterei. Dan malah menyebabkan masalah lain yaitu membengkakan biaya karena adanya aturan mengharuskan listrik disimpan hingga 20 hari kedepan.  

Ide saya, bagaimana jika diturunkan saja kapasitas penyimpanan surplus baterei listrik dari 20 hari menjadi 5 hari. Akibatnya pemakaian storage baterei menjadi kurang yang artinya efesiensi biaya dan menghemat lahan space real estate juga. 

Kekwatiran selama ini terhadap serangan terorist tidak perlu ditakutkan. Yaitu ubah dengan cara mendesentralisasikan lokasi baterei dan produksi listrik ke aneka macam lokasi berbeda beda yang melibatkan BUMN dan swasta. Dimana porsi pembagiaannya adalah 50% BUMN dan 50% swasta. 

Pemerintah Israel dapat bekerjasama memproduksi listrik bersama perusahaan swasta lokal. Seperti Opcenergy, Enlight, Energix, Ecoenergy, Teralight dan Ecowave. Tetapi untuk jaringan grid tetap 100% dikuasai oleh BUMN, tidak boleh swasta mengambil alih.  

Perumahan rakyat juga dapat memasang panel surya photovoltaic untuk kebutuhan listrik mandiri.  

50% menggunakan energi terbarukan 

Sejak tahun 2022. 100% wilayah di Israel sudah teraliri oleh tiang listrik. Bahkan hingga ke pedesaan terpencil. 

Israel tidak memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir. Sekalipun punya reaktor nuklir dan pusat penelitian nuklir di kota Dimona, Tetapi hanya untuk keperluaan kepentingan ilmuwan saja.  

Pada tahun 2025. Diperkirakan 15% listrik untuk setiap rumah dan industri di Israel sudah pakai energi terbarukan dari matahari, angin, pengelolaan sampah & biogas. Sisanya 85% masih berasal dari fosil seperti gas alam dan batu bara. 

Harapannya di tahun 2040, pemerintah Israel gencar bergerak mencapai 40% dari panel surya matahari dan energi terbarukan lainnya. Tetapi 60% masih tetap beli gas dan batu bara. 

Sedangkan untuk transportasi ( mobil, sepeda motor, bus, truck, kapal ). Hampir 90% menggunakan minyak bumi yang dibeli oleh Israel dari Azerbaijan, Kurdistan, Rusia dan Uni Emirat Arab ( UEA ). Sisanya 10% menggunakan mobil EV listrik.  

Manfaat menurunkan harga tarif listrik hingga 50%

Jika surplus listrik dapat diedarkan kepada rakyat dan industri, dari 20 hari menjadi 5 hari. Maka dapat menurunkan harga di seluruh wilayah Israel. Tentu saja, produksi listrik perlu ditingkatkan oleh pemerintah Israel dengan memasang lebih banyak lagi panel solar dan meningkatkan energi dari pengelolaan limbah biogas menjadi listrik. 

Jika pemerintah Israel sukses menurunkan harga listrik hingga 50%. Maka daya beli masyarakat akan meningkat yang berarti tabungan dan investasi rakyat juga ikut meningkat. 

Harga kebutuhan pokok bakal terdongkrak menjadi lebih murah dan sebanyak total 5.000 perusahaan di Israel menggeliat mengekspor aneka macam produk akibat biaya manufaktur di pabrik menjadi lebih rendah sehingga dapat bersaing dikancah internasional dengan harga produk yang lebih murah, karena menikmati listrik murah, bukan karena listrik subsidi melainkan karena peningkatan kualitas produksi listrik dan efesiensi waktu penyimpanan 5 hari tersebut.

Selain itu, sebanyak kurang lebih 520.000 ribu UKM di Israel juga dipastikan menikmati tarif listrik murah yang mendorong aktivitas ekonomi menjadi semakin maju dan terdepan.

Israel jangan meniru kebijakan di negara tetangga Arab atau negara lain yang doyan mensubsidi listrik, subsidi tabung gas elpiji 3 kg atau mensubsidi bensin BBM karena itu adalah perbuatan keliru dan salah kebijakan. 

Melainkan pemerintah Israel harus memperbanyak lebih banyak infrastruktur pembangkit listrik tenaga surya dan memperkuat struktur energi terbarukan dengan membangun lebih banyak sistem pendukung listrik. Tidak boleh ada uang sepeserpun dari APBN untuk subsidi energi & listrik. 

Jadi selama ini, pemerintah Israel yang dipimpin oleh Benjamin netanyahu sudah berada di jalan & jalur kebijakan yang benar. 

Ketahuilah, salah satu ciri khas negara maju di masa depan adalah wajib dan harus memiliki tarif listrik paling murah. Dan pemerintah Israel berpotensi menuju ke arah tersebut, hanya saja perlu direformasi lagi menjadi lebih baik.

Sedangkan negara yang memiliki tarif harga listrik mahal tentu dapat berbahaya karena mengakibatkan pelemahan ekonomi makro dan terjadinya marak deindustrisasi. 

Terima kasih. Semoga bermanfaat ya. GBU.