Belajar dari perang Gaza : Pemerintah Israel harus hentikan produksi turret Samson dan UT30. Fokus ke Merkava 120 mm dan RCWS Elbit generasi ke 3 ( 2025 )
Mempelajari dan mengamati peperangan di Gaza untuk memperhatikan kualitas produk senjata milik tentara IDF Israel.
Saya menemukan indikasi ada persenjataan sampah yang tidak berguna. Yaitu Samson RWS dan UT30. Ini sejenis perlengkapan untuk tank pengangkut personil lapis baja seperti tank Namer dan tank Eitan.
Saya menyebutnya sebagai teknologi nanggung.
Tembakan meriam 30 mm yang sedang sibuk mengikis beton, hanya memberikan kesempatan bagi Hamas untuk melarikan diri berpindah tempat dari satu rumah ke rumah lainnya sambil masih punya waktu bagi Hamas bikin adukan kopi dan teh panas. Lalu Hamas keluar menyergap tiba tiba dengan menembakkan RPG.
Ini berbeda dibandingkan dengan turret meriam 120 mm milik tank Merkava.
Ketika terorist Hamas terindentifikasi keberadaannya, lalu mencoba melindungi diri dengan bersembunyi di dalam struktur beton berlapis lapis. Maka tembakan tank Merkava berukuran 120 mm sanggup menghancurkan rumah tersebut dalam waktu kurang dari 10 detik. Merobohkan, membakar seluruh perabotan, termasuk menewaskan terorist dalam waktu cepat tanpa memberikan kesempatan untuk melarikan diri.
Biaya tembak tank Merkava memang mahal, sekali tembak Rp 50.000.000 juta rupiah. Tetapi hasilnya memuaskan.
Bandingkan dengan Samson dan UT30. Biaya tembaknya murah tapi hasilnya mengecewakan.
Lagian di masa depan, kebanyakan negara tidak sanggup untuk membeli Samson dan UT30. Mereka bakal fokus ke produk seperti RCWS dan peluncur rudal genggam seperti RPG, Kornet, Red dragon, Javelin, Spike, dll.
Sedangkan turret untuk kelas tank MBT ( main battle tank ). Saya yakin banyak negara tidak dapat memiliki akses untuk produk tersebut, karena harganya kerasa kelewat mahal. Sebatas kesanggupan membeli pada produk RCWS. Bahkan beli pakai skema cicilan kredit.
Turret tank dengan kaliber 120 mm hanya sanggup dibeli dan dimiliki oleh segelintir negara besar yang secara finansial keuangan cukup untuk mampu membelinya seperti Rusia, Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Inggris ( United Kingdom ), Israel, Korea selatan, Arab Saudi, Indonesia, Iran, Malaysia, Turkiye, Australia, India, China, dll.
Akibatnya kesenjangan kepemilikan teknologi tank MBT semakin melebar.
Oleh sebab itu, kenapa produk seperti tank Abrams, Leopard, Armata, dll semakin sulit terjual di masa depan. Alasannya sudah dibahas seperti pembahasan diatas.
Hal berikutnya yang terjadi yaitu versi menengah dari teknologi turret ( semacam 30 mm, 90 mm, 105 mm ) akan terlibas mengikuti arus utama. Menyebabkan produk semacam itu. Juga ikut tidak bakalan laku dipasaran internasional.
Tetapi pangsa pasar untuk RCWS ( remote control weapon system ) bakalan semakin meluas peminatnya.
Saran saya dengan menghentikan produksi Samson dan UT30 maka itu dapat mengefesienskan pabrik manufaktur persenjataan Israel agar fokus ke produk utama dalam meraup keuntungan secara berkelanjutan tanpa harus terbeban dengan aneka pembuatan jenis produk lainnya yang kurang laku.
Mempertahankan jalur produksi meriam 30 mm malah justru dapat membebani arus kas keuangan dan condong merugikan.
Poin penting yang dapat diambil kepada pemangku kepentingan kebijakan di pemerintah Israel yaitu tetap mempertahankan produksi turret tank Merkava 120 mm untuk kebutuhan pribadi internal demi menjaga keamanan dan kedaulatan. Sedangkan produksi RCWS ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan ekspor ke seluruh penjuru dunia bagi pelanggan negara lain yang berminat.
![]() |
Foto : RCWS Elbit System generasi ke 3 dengan tingkat kestabilan yang diperkuat |
Dalam peperangan urban warfare.
RCWS dapat dimanfaatkan untuk menembak terorist yang sedang tidak terlindungi dengan bangunan kokoh. Sedangkan tembakan Tank Merkava yang mematikan sanggup melumpuhkan terorist berserta bangunan tempat persembunyiannya dalam waktu cepat.
Jadi kesimpulannya yaitu tank Eitan tidak perlu diinstal Samson atau UT30.
Cukup pakai RCWS saja.
Itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu berlebihan.